Dalang Milenial Bekasi Reifaldi Aldiansyah, Penjaga Warisan Budaya di Era Digital

14
0

Bekasi, Kilasbekasi.id – Di tengah gempuran hiburan digital yang serba cepat, seorang pemuda dari Kabupaten Bekasi memilih jalur yang berbeda, jalur tradisi yang kian jarang dilirik. Reifaldi Aldiansyah Hidayat, dalang muda berusia 20 tahun, adalah sosok inspiratif yang setia melestarikan seni pewayangan, sebuah warisan luhur bangsa yang diakui UNESCO.

Dari Kecil, Akrab dengan Wayang

Lahir dan besar di Kampung Tegal, Desa Nagasari, Kecamatan Serangbaru, Reifaldi telah menunjukkan ketertarikan pada wayang sejak kecil. Saat teman-teman sebayanya asyik dengan mainan modern, ia justru terpikat oleh alunan gamelan dan kisah-kisah wayang yang sering mengisi hajatan kampung.

“Dulu belum ada YouTube, hiburan di kampung itu wayang. Awalnya saya beli wayang kecil-kecilan, lama-lama pengin punya yang seperti di panggung, terus kepikiran pengin bisa ngedalangan,” ujar mahasiswa Universitas Pelita Bangsa ini.

​Awalnya, wayang hanya menjadi koleksi. Namun, keinginan untuk menghidupkan tokoh-tokoh pewayangan di balik kelir semakin kuat. Ia pun belajar secara otodidak melalui VCD dan video pertunjukan dalang.

Mendalami Ilmu Pedalangan Saat Pandemi

Perjalanan serius Reifaldi sebagai dalang dimulai sekitar tahun 2021. Momen pandemi COVID-19 yang meliburkan aktivitas sekolah justru menjadi berkah baginya. Waktu luang tersebut dimanfaatkannya untuk berguru langsung kepada Dalang Entang Sunandar, seorang dalang sepuh di Karawang.

“Saya ke Karawang waktu itu belajar sama Dalang Entang Sunandar. Enggak lama, kurang lebih sebulan, tapi sampai sekarang kalau ada waktu saya masih sering ke sana,” kenangnya.

​Menjadi dalang bukan sekadar menggerakkan wayang. Tantangan terberat, menurut Reifaldi, adalah menguasai suara dan tembang. Setiap tokoh memiliki karakter suara yang berbeda, dan kakawen (tembang) memerlukan pemahaman mendalam tentang bahasa dan sastra Jawa.

“Yang paling susah itu kakawen. Dalang harus paham artinya, karena setiap adegan punya kakawen yang berbeda,” jelasnya.

Wayang Kekinian dengan Guyonan Viral

Menyadari bahwa wayang perlu beradaptasi agar relevan di mata generasi muda, Reifaldi membawa sentuhan inovasi. Ia memilih menonjolkan sisi humor dengan menyisipkan isu-isu viral di media sosial, terutama melalui tokoh raksasa atau punakawan, tanpa meninggalkan esensi cerita.

“Saya lebih menonjolkan guyonan. Kalau ada yang lagi viral di TikTok, saya masukin ke dialog wayang, tentu disesuaikan dengan adegannya,” ungkapnya. Inovasi ini menjadi jembatan agar anak muda merasa terhubung dengan seni tradisi.

​Sejak aktif mendalang, Reifaldi rutin tampil di berbagai acara, mulai dari hajatan warga, peringatan hari besar, hingga perayaan Agustusan. Ia bahkan telah membentuk grup seni sendiri dan telah menguasai banyak lakon dari Ramayana, Mahabharata, serta cerita purwa lainnya.

Di luar panggung pewayangan, Reifaldi juga menempuh pendidikan di program studi Bisnis Digital Universitas Pelita Bangsa. Baginya, ilmu tersebut bukan hanya untuk masa depan pribadi, tetapi juga untuk memajukan kelompok seninya.

“Di bisnis digital ada manajemen promosi dan pemasaran. Itu relevan untuk mempromosikan kelompok seni yang saya pimpin,” paparnya.

​Aktif berjejaring dengan dalang-dalang muda melalui Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia), Reifaldi dan rekan-rekannya rutin berlatih dan berbagi pengalaman demi menjaga kualitas serta regenerasi dalang di Indonesia.

Harapan untuk Wayang dan Generasi Muda Bekasi

Sebagai dalang muda, Reifaldi menyimpan harapan besar akan perhatian pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bekasi. Ia berharap seniman lokal diberi ruang lebih luas untuk tampil dan berkembang. “Kalau warga Bekasi mau hajat atau hiburan, jangan langsung melirik yang dari luar. Lihat dulu yang dari Bekasi,” harapnya.

​Ia juga menekankan pentingnya adaptasi dan kreativitas agar wayang tetap hidup dan dicintai. “Anak muda sekarang mikir wayang itu tontonan orang tua. Jadi memang harus diadaptasi, ditampilkan hal-hal yang lagi trending,” katanya.

​Kepuasan terbesar Reifaldi adalah melihat penonton tertawa dan menikmati pertunjukan. “Kalau penonton dan nayaga (penabuh gamelan) ketawa, rasanya puas. Berarti pertunjukan berhasil,” ujarnya.

​Bagi Reifaldi, wayang lebih dari sekadar seni, ia adalah warisan leluhur yang tak ternilai. “Wayang itu warisan leluhur, sudah diakui UNESCO. Ada pepatah, martabat bangsa diukur dari budayanya. Kalau budayanya hancur, bangsanya juga hancur,” pungkasnya, menunjukkan komitmennya untuk menjaga dan meneruskan obor budaya ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini