Bekasi, Kilasbekasi.id – Latar belakang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah untuk menurunkan stunting, meningkatkan kesehatan ibu hamil dan menyusui, serta memberdayakan ekonomi lokal. Pemerintah menargetkan 15 juta penerima MBG hingga akhir 2025. Seperti apa kondisi penerapan dari program ini?
Program yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 ini rupanya menghadapi masalah. Di sejumlah daerah, para siswa SD mengalami keracunan makanan.
Namun, sayangnya masyarakat dan tenaga pendidik belum dibekali pengetahuan cukup tentang perbedaan alergi dan keracunan makanan, serta dapat memberi pertolongan pertama ketika terdapat siswa yang mengalami keracunan.
Seperti dikutip dari laman ugm.ac.id, Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K), mengatakan, alergi dan keracunan makanan mempunyai penyebab dan mekanisme yang berbeda.
“Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi segera setelah mengonsumsi makanan tertentu. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan pemicu alergi dapat menyebab gejala, seperti biduran, pembengkakan saluran pernapasan yang memicu asma, hingga gangguan pencernaan,” kata Tri.
Lihat juga: Mengenal Program Kantin Sehat yang Diresmikan Gubernur DKI Jakarta
Dia menjelaskan, pentingnya penanganan pertama yang cepat dan tepat saat siswa mengalami gejala keracunan makanan.
“Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Langkah paling penting dalam pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi,” kata dia.
Salah satu SD di wilayah Provinsi Jawa Barat yang mengalami keracunan adalah Kota Bekasi. Sebanyak enam siswa SDN Kota Baru 3, Kota Bekasi mengalami keracunan, seperti sakit perut dan muntah setelah mengonsumsi makanan dari program MBG, pada Kamis, 2 Oktober 2025 lalu.
Lihat juga: Temui 6 Korban Keracunan MBG, Wali Kota Bekasi Pastikan Penanganan Cepat dan Evaluasi Menyeluruh
Hidangan yang disantap para murid saat itu adalah, makaroni pasta, jagung, saus mayonaise, dan semangka. Keenam siswa tersebut sempat dibawa ke RS Ananda dan seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemkot Bekasi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto mengunjungi para siswa yang dirawat di rumah sakit tersebut. Dia memastikan seluruh korban mendapat penanganan medis terbaik dan pemkot menanggung biaya pengobatan.
Menurut Guru Besar UGM, Tri Wibawa, untuk mencegah terjadinya keracunan harus dilakukan pengawasan ketat terhadap seluruh rantai produksi makanan MBG sangat penting, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, dan distribusi.
“Setiap tahap proses dapat menjadi titik masuk bagi bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, standar kebersihan harus diterapkan secara optimal,” kata Tri.



