Gunung Semeru Meletus, Ini Efek bagi Kesehatan Manusia

192
0
Gunung Semeru

Kesehatan, Kilasbekasi.id – Gunung Semeru meletus pada Rabu, 19 November 2025. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini meluncurkan awan panas sejauh 5,5 km. Warga sekitar panik dan menyelamatkan diri ke lokasi yang aman. Efek dari letusan gunung berapi yang menyemburkan abu vulkanik dapat menyebabkan beberapa masalah bagi kesehatan.

Dampak Gunung Semeru Meletus bagi Kesehatan

Letusan guguran awan panas dari Gunung Semeru hingga tembus radius 13 kilometer yang mengarah kedua aliran Sungai Curah Kobokan dan Kali Lanang atau Besuk Lengkong, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupatan Lumajang.

Oleh sebab itu, warga diimbau untuk menjauhi lokasi yang masih terselimuti abu vulkanik. Berikut ini rangkuman Kilasbekasi dari berbagai sumber mengenai efek dari abu vulkanik bagi kesehatan bagi tubuh manusia.

1. Iritasi dan Alergi

Menurut ahli di National Health Service (NIH) UK, selain memengaruhi pernapasan, bahaya abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi di mata dan kulit. Tingkat keparahan masalah ini dipengaruhi oleh konsentrasi abu, lamanya paparan abu, seberapa halus partikel abu, dan terbuat dari apa abu tersebut.

Abu vulkanik yang keluar ketika gunung berapi meletus terdiri dari beragam kandungan. Seperti silika, mineral, dan bebatuan. Unsur yang paling umum, yakni natrium, kalsium, kalium, magnesium, flourida, sulfat, dan klorida. Bahan-bahan ini bersifat asam yang dapat membuat iritasi.

Lihat juga: Presiden Prabowo Tinjau Proses Digitalisasi Pembelajaran di SMPN 4 Kota Bekasi

Di samping itu, abu vulkanik juga terdiri dari bermacam debu, partikel, dan pollen yang dapat menimbulkan alergi. Bahaya abu vulkanik pada seseorang yang berbakat alergi, dapat meningkatkan risiko mengalami alergi jika terpapar bahan-bahan tersebut.

2. Bahaya bagi Bayi dan Lansia

Ahli di NIH menjelaskan, gas dan abu vulkanik berpotensi merusak paru-paru bayi, lansia, dan mereka yang mengidap penyakit pernapasan parah. Bahaya abu vulkanik juga bisa memengaruhi orang yang jaraknya ratusan kilometer dari lokasi letusan.

3. Silikosis

Berdasarkan penelitian tersebut, ada kekhawatiran tentang risiko jangka panjang silikosis akibat paparan kronis abu vulkanik. Silikosis merupakan kondisi berlebihnya silika di dalam tubuh, akibat terlalu banyak menghirup debu silika dalam jangka waktu yang lama.

Gunung berapi akan mengeluarkan gas, seperti sulfurdioksida (S02), hidrogen sulfida (H2S), karbonmonoksida (CO), nitrogen (NO2), dan karbondioksida (CO2). Beberapa zat ini yang membahayakan kesehatan manusia jika terpapar dalam jumlah yang berlebih.

Lihat juga: Tilang Operasi Zebra 2025 Berlaku, Ini Rincian Pelanggaran

Abu vulkanik mengandung mineral kuarsa, kristobalit, atau tridimit. Zat ini adalah kristal silika bebas atau silikon dioksida (SiO2) yang dapat menyebabkan penyakit paru yang fatal atau silikosis. Abu silikosis sangat halus dan menyerupai pecahan kaca.

Penderita dapat mengalami keluhan, seperti batuk, sesak napas, penurunan berat badan, hingga mengi dengan dahak yang berlebihan.

Berikut beberapa komplikasi silikosis:

  • Penyakit jaringan ikat, termasuk rheumatoid arthritis, scleroderma (juga disebut sklerosis sistemik progresif), dan lupus eritematosus sistemik.
  • Kanker paru-paru.
  • Fibrosis masif progresif.
  • Kegagalan pernapasan.
  • Tuberkulosis.

4. Gangguan Pernapasan Akut

Menurut studi, dampak abu vulkanik bagi kesehatan tubuh (akut dan kronis) bergantung pada ukuran partikel (seberapa banyak yang terhirup), komposisi mineralogi (kandungan silika kristal), dan sifat fisika-kimia permukaan dari partikel abu vulkanik.

Efek letusan gunung berapi bagi kesehatan tubuh bisa berbeda-beda. Namun biasanya dampak abu vulkanik bagi kesehatan berkaitan dengan gangguan pernapasan akut seperti bronkitis atau asma.

Selain itu, eksaserbasi paru-paru dan penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya sering terjadi setelah menghirup abu vulkanik. Tapi tidak ditemukan efek jangka panjang pada fungsi paru-paru setelah terpapar abu vulkanik.

Menurut ahli di National Institutes of Health (NIH), efek abu vulkanik bagi kesehatan juga dapat memicu penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), emfisema, dan penyakit paru-paru jangka panjang (kronis) lainnya.

Berikut gejala paparan abu vulkanik:

  • Masalah pernapasan seperti sesak napas
  • Batuk
  • Gejala mirip flu
  • Sakit kepala
  • Lemas atau kurang berenergi
  • Produksi lendir meningkat
  • Sakit tenggorokan
  • Mata berair dan iritasi

Setelah mengetahui beberapa dampak meletusnya Gunung Semeru bagi kesehatan tubuh, sebaiknya masyarakat di sekitar lebih waspada dan menjauhi area yang masih diselimuti abu vulkanik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini