Jejak Sejarah Pasar Cikarang dari Era Kolonial hingga Kini

13
0

Bekasi, Kilasbelasi.id – Deru langkah penataan Pasar Cikarang terus dilakukan. Di bawah kepemimpinan Plt. Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja, kawasan pasar di Jalan RE Martadinata, Cikarang Utara, tengah menjadi fokus pembenahan.

Relokasi dan penataan pedagang ini bukan sekedar tata kota, melainkan upaya mengembalikan fungsi jalan, mengurangi kemacetan lalu lintas, menciptakan lingkungan yang tertib, bersih, serta meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui tempat dagang yang lebih representatif.

Asep pun memilih cara yang tak berjarak, turun langsung ke lapangan, berdialog dengan pedagang, dan memastikan proses berjalan dengan pendekatan humanis.

Namun di balik hiruk pikuk penataan hari ini, Pasar Cikarang menyimpan jejak sejarah panjang—lebih dari sekadar tempat jual beli, ia adalah saksi hidup perjalanan sejarah Kabupaten Bekasi.

Sejarawan Bekasi, Endra Kusnawan, mengungkapkan bahwa Pasar Cikarang, khususnya yang kini dikenal sebagai Pasar Lama, telah berdiri sejak tahun 1854. Keberadaannya tercatat dalam Staatsblad 1854 Nomor 1, didirikan oleh tuan tanah Kedunggedeh di atas tanah miliknya.

Sejarah Pasar Cikarang, jelasnya, ditulis juga dalam bukunya, Sejarah Bekasi: Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini Edisi Ketiga Tahun 2026. “Pasar Cikarang ini dulunya hanya buka setiap hari Rabu,” ujar Endra, saat ditemui pada Kamis, (07/05/2026).

Menurutnya hal ini merujuk pada aturan kolonial yang dikenal sebagai “Atoeran Pasar Tjikarang”. Aturan tersebut tak hanya berlaku di Cikarang, tetapi juga menjadi model bagi pasar-pasar lain di wilayah sekitar seperti Serpong, Ciledug, hingga Cililitan.

Dari titik ini, Pasar Cikarang bukan sekadar pusat ekonomi, melainkan pemantik tumbuhnya jejaring pasar di kawasan yang kini dikenal sebagai Jabodetabek.

Secara geografis, kata Endra, letak Pasar Cikarang memang strategis. Ia berdiri di simpul pertemuan dua jalur transportasi penting pada masanya: sungai dan darat. Kali Cikarang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat tempo dulu, sebelum jalan darat berkembang menghubungkan Jatinegara hingga Tanjung Pura.

“Pertemuan antara jalur sungai dan jalan darat itulah yang kemudian memicu lahirnya pusat-pusat permukiman dan aktivitas ekonomi,” jelas Endra.

Tak heran, jika kemudian Stasiun Cikarang—yang dalam peta topografis tahun 1903 sudah tercatat—dibangun tak jauh dari kawasan pasar. Infrastruktur mengikuti denyut ekonomi, dan Pasar Cikarang adalah salah satu nadinya. Ibarat peribahasa mengatakan, “ada gula ada semut”, bertumbuhnya peluang ekonomi memanggil orang untuk datang dan pergi beraktivitas.

Memasuki era yang lebih modern, dari sumber lain yang penulis dapat kan, wajah pasar mengalami perubahan. Pada tahun 1977, Pemerintah Kabupaten Bekasi mulai membangun Pasar Baru Cikarang beserta terminalnya, memanfaatkan dana Inpres, APBN, dan swadaya masyarakat. Lokasinya yang berada tepat di depan Pasar Lama membuatnya disebut “pasar baru”, sebagai simbol perkembangan zaman. Sebagaimana dalam dikutip dalam Kompas, tahun 1977.

Kini, lokasi yang saat ini menjadi Sentra Grosir Cikarang dahulunya adalah terminal. Berdiri bersebelahan dengan Pasar Baru yang mengusung konsep pasar modern. Antara Pasar Lama, Pasar Baru dan SGC menjadi satu kesatuan sebagai sentra ekonomi masyarakat.

Meski demikian, Endra mengingatkan bahwa penataan pasar hari ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah dan keterhubungan antar ruang.

“Penataan pasar harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi—antara pasar lama dan pasar baru, antara pasar basah dan pasar kering,” tegasnya.

Pesan itu menjadi penting. Sebab Pasar Cikarang bukan hanya soal lokasi atau bangunan, tetapi tentang kesinambungan—antara masa lalu dan masa kini, antara yang tradisional dan modern.

Kini, ketika pemerintah berupaya merapikan wajah kota, Pasar Cikarang seakan kembali mengingatkan: bahwa setiap langkah penataan, sesungguhnya juga adalah upaya merawat sejarah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini