Wujudkan Harmoni, Wali Kota Bekasi Lepas Pawai Ogoh-ogoh di Pura Agung Tirta Buana

251
0

Bekasi, Kilasbekasi.id – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Bekasi berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Terpusat di Pura Agung Tirta Buana, Kelurahan Jakasampurna, Bekasi Barat, rangkaian ibadah ini menjadi simbol kuatnya toleransi antarumat beragama di Kota Patriot.

​Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, hadir langsung untuk membuka prosesi pawai ogoh-ogoh yang diikuti oleh ratusan umat Hindu. Kehadirannya menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap kebebasan beribadah dan pelestarian tradisi budaya di tengah masyarakat yang heterogen.

Simbol Penyucian Diri

​Pawai ogoh-ogoh merupakan bagian tak terpisahkan dari prosesi Bhuta Yajna. Dalam maknanya, replika raksasa tersebut melambangkan sifat-sifat negatif manusia seperti amarah, keserakahan, dan hawa nafsu yang harus dilarung.

​”Pawai ini bukan sekadar tontonan, melainkan simbol penyucian diri untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan alam semesta menjelang pelaksanaan Nyepi,” ujar salah satu panitia di lokasi.

Toleransi di Tengah Ramadan

​Dalam sambutannya, Wali Kota Tri Adhianto menyampaikan apresiasi mendalam atas semangat kebersamaan yang terus terjaga. Ia menekankan bahwa keberagaman adalah aset terbesar bagi pembangunan daerah.

​“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirawat dalam semangat saling menghormati. Inilah kekuatan Kota Bekasi, di mana toleransi hidup dan tumbuh di tengah masyarakat,” tegas Tri.

​Menariknya, perayaan Nyepi tahun ini beriringan dengan suasana bulan suci Ramadan. Tri menilai momentum ini sangat istimewa karena menunjukkan kedewasaan masyarakat Bekasi dalam beragama. Sebelumnya, Kota Bekasi juga sukses menggelar perayaan Cap Go Meh yang meriah, disusul dengan kekhidmatan Nyepi di tengah kekhusyukan umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Komitmen Harmoni Sosial

​Pemerintah Kota Bekasi berharap momentum ini dapat terus memperkuat harmoni sosial dan menjaga kondusivitas wilayah. Dengan terciptanya ruang bagi setiap umat untuk menjalankan tradisinya masing-masing dengan damai, Bekasi semakin mengukuhkan diri sebagai kota yang inklusif.

​Melalui semangat Nyepi Saka 1948 ini, diharapkan masyarakat dapat melakukan refleksi diri demi mewujudkan kehidupan yang lebih selaras dan damai ke depannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini