Jakarta, Kilasbekasi.id – Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto resmi menempati posisi sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) setelah mendapat persetujuan DPR RI dalam Rapat Paripurna pada Kamis, 1 Oktober 2026. Persetujuan tersebut menjadi tahapan penting sebelum Suyudi melanjutkan tugas sebagai orang nomor satu di institusi Polri.
Dalam rapat paripurna di Kompleks Parlemen, Jakarta, DPR menyetujui pengangkatan Suyudi untuk menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Sebelumnya, Komisi III DPR juga telah menyetujui Suyudi secara aklamasi dalam uji kelayakan dan kepatutan. Dalam pemaparannya, Suyudi membawa visi “Polri Bersama Masyarakat”.
Tak lama setelah memperoleh persetujuan parlemen, Suyudi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kapolri di Istana Negara, Jakarta. Dengan demikian, perjalanan panjang perwira kelahiran Pandeglang, Banten, itu mencapai salah satu jenjang tertinggi dalam karier kepolisian.
Lulusan Akpol 1994
Suyudi merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994. Ia satu angkatan dengan sejumlah perwira tinggi Polri, termasuk Komjen Pol Asep Edi Suheri. Sejak awal karier, Suyudi banyak berkecimpung dalam fungsi reserse, bidang yang kemudian menjadi salah satu ciri utama perjalanan profesionalnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan kepolisian, ia mengawali penugasan dengan sejumlah jabatan di lingkungan Polri. Pada 1995, Suyudi tercatat bertugas sebagai Pama Pus Brimob, sebelum melanjutkan penugasan berikutnya pada 1996.
Kariernya kemudian berkembang melalui berbagai posisi operasional, termasuk di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Ia pernah dipercaya menjadi Kapolsek Pasar Minggu pada 2004, kemudian memimpin Polsek Metro Tanah Abang pada 2012 dan Polsek Metro Penjaringan pada 2013.
Memimpin Sejumlah Polres
Pengalaman kepemimpinan di tingkat kewilayahan terus bertambah. Suyudi mendapat kepercayaan menjadi Kapolres Majalengka pada 2014–2015. Setelah itu, ia memimpin Polres Bogor Kabupaten pada 2015–2016 dan kemudian menjabat Kapolresta Bogor pada 2016–2017.
Perjalanan karier tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan penegakan hukum di tingkat daerah sekaligus memperluas pengalamannya dalam memimpin satuan kepolisian.
Memasuki 2017, Suyudi memperoleh penugasan di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Di lingkungan tersebut, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Wakil Direktur Tindak Pidana Siber.
Setelah sekitar dua tahun di Bareskrim, Suyudi kembali ke Polda Metro Jaya. Pada 2019, ia dipercaya memimpin Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum). Penugasan tersebut semakin memperkuat rekam jejaknya sebagai perwira yang memiliki pengalaman panjang di bidang penyidikan dan penegakan hukum.
Dari Wakapolda Metro Jaya ke Kapolda Banten
Jenjang karier Suyudi terus meningkat hingga mencapai posisi pimpinan daerah. Ia menjabat Wakapolda Metro Jaya mulai 27 Maret 2023 hingga 26 Juni 2024.
Pada 26 Juni 2024, Suyudi kemudian dipercaya menjadi Kapolda Banten. Jabatan tersebut diembannya hingga Agustus 2025. Sebelum dipercaya menduduki jabatan nasional, pengalaman memimpin Polda Banten menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan kariernya.
Setelah itu, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suyudi sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Ia resmi dilantik pada 25 Agustus 2025 untuk menggantikan Marthinus Hukom. Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keppres Nomor 118/TPA Tahun 2025.
Pada September 2025, Suyudi juga resmi menyandang pangkat Komisaris Jenderal Polisi setelah kenaikan pangkatnya dilakukan dalam upacara Korps Raport yang dipimpin Kapolri saat itu, Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Pendidikan hingga Doktor Honoris Causa
Selain pengalaman lapangan, Suyudi memiliki latar belakang pendidikan kepolisian dan akademik yang cukup panjang. Ia menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2003. Dalam perjalanan pendidikannya, ia juga menempuh pendidikan pengembangan kepemimpinan di lingkungan Polri.
Sejumlah sumber profil menyebut Suyudi memiliki gelar Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K), Sarjana Hukum, serta Magister Sains. Pada 31 Januari 2026, ia memperoleh gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Hukum dari Universitas Tarumanagara.
Kasus Sabu Dua Ton Jadi Sorotan
Nama Suyudi kembali menjadi perhatian publik ketika memimpin BNN. Salah satu perkara besar yang mencuat pada akhir 2025 adalah pengungkapan jaringan penyelundupan dua ton sabu yang dikaitkan dengan Dewi Astutik alias PA.
Dewi Astutik ditangkap di Kamboja melalui kerja sama lintas negara setelah masuk dalam daftar buronan Interpol. BNN menyebut narkotika yang diselundupkan dalam perkara tersebut memiliki nilai sekitar Rp5 triliun. Dalam konferensi pers pada Desember 2025, Suyudi menyatakan pengungkapan dua ton sabu tersebut berpotensi menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman narkotika.
Penanganan kasus tersebut juga melibatkan kerja sama sejumlah institusi Indonesia dan pihak berwenang Kamboja. Operasi itu menjadi salah satu perkara besar yang ditangani BNN selama masa kepemimpinan Suyudi.
Menapaki Puncak Karier di Polri
Kini, rangkaian penugasan Suyudi dari fungsi reserse, kepemimpinan di sejumlah wilayah, Bareskrim, Polda Metro Jaya, Polda Banten hingga BNN mengantarkannya ke posisi Kapolri.
Pengalamannya di berbagai bidang tersebut menjadi bagian dari rekam perjalanan yang menyertai pengangkatannya sebagai pimpinan tertinggi Polri. Dalam proses uji kelayakan di DPR, Suyudi menyampaikan visi “Polri Bersama Masyarakat”, yang menjadi salah satu gagasan utama yang dibawanya ketika memasuki babak baru kepemimpinan Korps Bhayangkara.
Dengan pelantikan pada 1 Oktober 2026, Suyudi Ario Seto resmi memulai masa tugasnya sebagai Kapolri. Ia menggantikan Listyo Sigit Prabowo dan kini bertanggung jawab memimpin institusi kepolisian nasional dengan pengalaman panjang yang sebagian besar dibentuk dari penugasan di bidang reserse dan kepemimpinan kewilayahan.



