Jakarta, Kilasbekasi.id – Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang berlangsung dalam periode berdekatan tidak dapat secara langsung diartikan sebagai sinyal bahwa gempa besar di zona megathrust akan segera terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk menghubungkan kedua fenomena tersebut sebagai satu rangkaian peristiwa yang pasti.
Pejabat Kendali Mutu Data Gempa dan Tsunami BMKG, Pepen Supendi, mengatakan aktivitas vulkanik dan gempa tektonik pada kawasan megathrust merupakan fenomena berbeda. Meskipun sama-sama dipengaruhi dinamika bumi dan kondisi tektonik Indonesia, hubungan langsung antara peningkatan aktivitas gunung api dengan ancaman gempa megathrust belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
“Erupsi beberapa gunung api yang berlangsung hampir bersamaan bukan berarti menjadi indikator bahwa gempa besar megathrust akan terjadi,” kata Pepen dikutip dari Bloomberg Technoz, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi yang mengaitkan aktivitas gunung api dengan prediksi gempa besar. Kesimpulan semacam itu berpotensi menimbulkan keresahan apabila tidak didukung hasil kajian dan pengamatan ilmiah.
Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan pentingnya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi dan memiliki sejumlah jalur subduksi yang dapat menghasilkan gempa bumi berkekuatan besar.
Fenomena Geologi Alamiah
Di sisi lain, pegiat mitigasi bencana Daryono membantah anggapan bahwa erupsi sejumlah gunung api yang terjadi berdekatan merupakan hasil rekayasa teknologi maupun penggunaan senjata tertentu.
Ia menjelaskan, letusan gunung api merupakan bagian dari mekanisme alam yang berkaitan dengan proses geologi di dalam bumi. Energi yang terlibat dalam proses tersebut berasal dari sistem internal bumi dalam skala yang sangat besar sehingga tidak dapat dengan mudah dibangkitkan ataupun dikendalikan oleh teknologi manusia.
“Energi pemicu erupsi bersumber dari dinamika mantel bumi yang berada pada kedalaman puluhan sampai ratusan kilometer,” ujar Daryono dalam keterangannya.
Secara geologi, erupsi berkaitan dengan pergerakan magma menuju permukaan. Magma mempunyai massa jenis yang lebih rendah dibandingkan batuan di sekelilingnya sehingga memiliki gaya apung untuk bergerak naik. Pada saat yang sama, gas yang terlarut dalam magma, seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida, dapat meningkatkan tekanan di dalam sistem vulkanik.
Tekanan pada ruang magma tersebut dapat mencapai tingkat yang sangat tinggi. Kondisi ini membuat anggapan bahwa teknologi buatan manusia dapat dengan sengaja menembus kerak bumi lalu mengubah tekanan pada sistem magma menjadi tidak memiliki landasan geofisika yang kuat.
Indonesia Berada di Kawasan Cincin Api
Daryono mengatakan aktivitas beberapa gunung api yang meningkat dalam waktu berdekatan juga tidak terlepas dari karakter geologi Indonesia. Wilayah Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan menjadi tempat bertemunya sejumlah lempeng tektonik besar.
Interaksi Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina membentuk lingkungan geologi yang sangat aktif. Proses penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lainnya turut membawa air dan material sedimen ke bagian dalam bumi. Kondisi tersebut berperan dalam proses pembentukan magma.
Dalam situasi tertentu, perubahan tegangan pada kerak bumi akibat aktivitas tektonik regional maupun penyesuaian setelah gempa besar dapat memengaruhi sistem gunung api yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi aktif. Gunung api dengan tekanan dan suplai magma yang telah mendekati kondisi kritis berpotensi menunjukkan peningkatan aktivitas pada waktu yang relatif berdekatan.
Fenomena tersebut, kata Daryono, masih dapat dijelaskan melalui mekanisme alamiah dan tidak otomatis menunjukkan adanya campur tangan teknologi.
Aktivitas Gunung Api Dapat Dipantau
Daryono menambahkan bahwa sebelum mencapai fase erupsi, gunung api umumnya memperlihatkan sejumlah perubahan yang dapat diamati menggunakan peralatan pemantauan. Salah satunya adalah peningkatan aktivitas kegempaan di sekitar tubuh gunung.
Gempa vulkanik dalam dan dangkal, tremor yang berkaitan dengan pergerakan magma, perubahan bentuk tubuh gunung, hingga perubahan kandungan gas menjadi beberapa parameter yang digunakan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik.
Perubahan deformasi juga dapat direkam menggunakan perangkat seperti GPS dan tiltmeter. Instrumen tersebut membantu mendeteksi adanya penggembungan atau perubahan bentuk pada tubuh gunung akibat tekanan dari dalam. Selain itu, pengamatan terhadap suhu serta kandungan gas vulkanik turut memberikan informasi mengenai kondisi sistem magmatik.
Karena berbagai indikator tersebut dapat dipantau, Daryono menilai erupsi bukanlah peristiwa yang terjadi karena adanya suatu sistem kendali buatan yang dapat diaktifkan sewaktu-waktu.
Ia menegaskan bahwa akumulasi tekanan, massa, dan energi di dalam gunung api merupakan proses alamiah yang berlangsung dalam rentang waktu tertentu. Oleh karena itu, klaim yang menyebut erupsi beruntun sebagai hasil rekayasa teknologi dinilai sebagai informasi yang tidak didukung bukti ilmiah.
Masyarakat pun diharapkan lebih mengutamakan informasi dari lembaga resmi dan sumber yang memiliki kompetensi di bidang kebencanaan. Kewaspadaan terhadap potensi bencana tetap penting, tetapi harus dibangun berdasarkan data dan pemahaman ilmiah, bukan spekulasi yang dapat memicu kepanikan.



