Seni Ujungan Bekasi Diakui Nasional: Babak Baru Pelestarian Budaya

5
0

Bekasi, Kilasbekasi.id — Eksistensi seni pertunjukan tradisional khas bumi patriot kini mendapat pengakuan tertinggi di panggung nasional. Direktorat Warisan Budaya Ditjen Perlindungan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi mengumumkan penetapan kesenian Ujungan Bekasi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia pada Jumat (3/7/2026).

​Apresiasi dan pengakuan berskala nasional ini disambut optimis oleh jajaran pemerintah daerah. Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bekasi, Iman Nugraha, menegaskan bahwa pencapaian historis ini bukan sekadar sebuah penghargaan administratif di atas kertas. Sebaliknya, momentum tersebut menjadi pijakan awal yang sangat krusial dalam merawat dan menghidupkan kembali akar tradisi lokal di tengah derasnya arus modernisasi.

​Menurut Iman, ketetapan dari pemerintah pusat ini menandai babak baru sekaligus tonggak sejarah yang krusial bagi perjalanan pelestarian adat istiadat di Kabupaten Bekasi. Legitimasi ini menegaskan status seni Ujungan bukan lagi hanya menjadi milik lokal masyarakat Bekasi, melainkan telah melekat sebagai bagian dari kekayaan komunal identitas bangsa yang wajib dijaga keberlangsungannya oleh seluruh elemen masyarakat.

​”Status Warisan Budaya Tak Benda merupakan bentuk pengakuan negara terhadap eksistensi Ujungan sebagai budaya yang khas, unik, dan memiliki nilai sejarah. Ini sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah untuk memberikan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan,” terang Iman Nugraha saat memberikan keterangan pers pada Selasa (7/7/2026).

​Perjalanan membawa Ujungan ke tingkat nasional diakui memerlukan dedikasi dan proses yang cukup panjang. Pemkab Bekasi harus mengawali langkah dengan melakukan penelusuran data yang mendalam, memformulasikan naskah akademik yang valid, memproduksi dokumentasi visual berupa foto dan video, hingga menghimpun bukti otentik mengenai rekam jejak historis, fungsi sosial, serta nilai luhur yang terkandung di dalam seni ketangkasan tersebut.

​Setelah seluruh berkas terkumpul, dokumen tersebut wajib lolos uji verifikasi yang ketat di level Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tahapan final kemudian berlanjut pada sidang pleno bersama Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda di bawah naungan Kementerian Kebudayaan RI untuk dinilai kelayakannya.

​Di balik keberhasilan tersebut, Iman tidak menampik adanya berbagai tantangan berat yang dihadapi tim di lapangan. Kendala mendasar yang paling dirasakan adalah minimnya arsip dokumen sejarah yang otentik. Selain itu, pemerintah daerah memikul tanggung jawab besar untuk meyakinkan tim penguji bahwa Ujungan bukan sekadar tradisi mati yang hanya tersimpan dalam catatan sejarah kuno, melainkan sebuah seni yang masih aktif dipraktikkan oleh masyarakat penuturnya.

​”Yang paling penting adalah menunjukkan bahwa tradisi ini masih hidup, masih diwariskan, dan masih memiliki fungsi sosial di tengah masyarakat. Itu menjadi salah satu aspek penting dalam proses penilaian,” tambahnya.

​Sinergi multipihak menjadi kunci utama di balik kesuksesan ini. Kolaborasi yang solid terjalin erat antara jajaran pemerintah daerah, para maestro, pelaku seni, kalangan akademisi, peneliti, hingga berbagai komunitas peduli budaya yang bahu-membahu melengkapi seluruh instrumen persyaratan yang diwajibkan pusat.

Pengembangan Seniman Tradisi

​Masuknya Ujungan dalam daftar WBTb Indonesia diyakini membuka lebar keran potensi pengembangan kesenian ini ke depan. Status hukum yang kuat tidak hanya memberikan perlindungan dari klaim luar, tetapi juga mempermudah regulasi anggaran daerah serta membuka peluang besar untuk mengamankan bantuan teknis maupun program pelestarian dari pemerintah pusat.

​Di sisi lain, pengakuan ini diharapkan membawa dampak linear terhadap peningkatan kesejahteraan para pegiat seni tradisi. Lewat legitimasi nasional yang kini dikantongi, kelompok-kelompok kesenian Ujungan memiliki modal besar untuk tampil di berbagai perhelatan kebudayaan, baik di skala nasional maupun internasional, yang pada akhirnya mampu memberikan apresiasi ekonomi yang lebih layak bagi profesi seniman tradisional.

​”Harapannya bukan hanya menjaga tradisinya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni. Mereka harus mendapatkan ruang yang lebih luas untuk berkarya sekaligus memperoleh pengakuan sebagai profesi yang bernilai,” harap Iman.

Masuk Kurikulum Pendidikan dan Agenda Wisata

​Agar predikat WBTb ini memberikan dampak nyata dan berkelanjutan, Disbudpora Kabupaten Bekasi telah menyusun beberapa strategi implementasi konkret. Langkah taktis yang disiapkan meliputi penguatan kapasitas sanggar-sanggar lokal, akselerasi digitalisasi dokumentasi, hingga penyediaan ruang-ruang pertunjukan publik yang representatif.

​Sektor pendidikan dasar dan menengah juga menjadi sasaran utama regenerasi. Pemkab Bekasi mendorong integrasi seni Ujungan ke dalam materi muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, hingga penyelenggaraan lokakarya interaktif yang melibatkan langsung para maestro Ujungan. Formula ini dinilai efektif dalam memastikan estafet pengetahuan budaya tidak terputus ke generasi muda.

​Selain penguatan internal, Ujungan diproyeksikan masuk ke dalam kalender rutin pariwisata Kabupaten Bekasi. Pementasannya akan dioptimalkan melalui festival budaya berkala mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten, sehingga mampu bertransformasi menjadi magnet wisata baru yang mempertegas jati diri daerah.

​Kendati demikian, Iman berpesan bahwa peran aktif masyarakat adalah pilar utama dalam menjaga kelestarian ini. Upaya birokrasi tidak akan maksimal tanpa adanya rasa kepemilikan yang kuat dari warga Bekasi sendiri.

​”Masyarakat harus bangga terhadap budayanya sendiri. Menonton pertunjukan, mendukung sanggar, mempromosikan melalui media sosial, hingga mengenalkan kepada anak-anak merupakan bagian dari upaya menjaga agar Ujungan tetap hidup,” cetusnya.

​Keberhasilan Ujungan ini dipastikan menjadi pemantik bagi Pemkab Bekasi untuk mengusulkan kekayaan budaya lainnya. Kabupaten Bekasi dinilai masih menyimpan segudang potensi budaya bernilai tinggi yang layak diperjuangkan ke tingkat nasional, mulai dari ragam kuliner khas, arsitektur tradisional, hingga berbagai kesenian rakyat yang masih tumbuh subur di tengah masyarakat.

​”Harapan kami, seni Ujungan tetap menjadi napas budaya Kabupaten Bekasi di tengah modernisasi yang berkembang sangat cepat. Budaya harus mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya, sehingga generasi mendatang tetap mengenal akar budayanya sendiri,” tutup Iman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini