Akses Air Bersih di Pasirranji Mulai Terurai Lewat Kolaborasi Infrastruktur Perpipaan

12
0

Bekasi, Kilasbekasi.id – Kebutuhan akan air bersih yang layak konsumsi masih menjadi tantangan nyata bagi sebagian warga di Desa Pasirranji, Kecamatan Cikarang Pusat. Meski wilayah ini berada di tengah kawasan industri yang berkembang pesat, akses terhadap sumber air yang memadai belum sepenuhnya merata.

Selama ini, warga harus berhadapan dengan kondisi air tanah yang kurang berkualitas serta keterbatasan pasokan harian yang memaksa mereka mengeluarkan biaya ekstra demi memenuhi kebutuhan dasar.

​Kepala Desa Pasirranji, Wardi Sunandar, mengungkapkan bahwa upaya pengeboran sumur dalam hingga mencapai kedalaman 150 meter telah dilakukan, namun hasilnya tetap tidak optimal. Air yang dihasilkan cenderung berwarna kuning, berminyak, dan memiliki rasa pahit, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk keperluan sanitasi.

Kondisi alamiah tanah di wilayah tersebut membuat jaringan perpipaan menjadi satu-satunya solusi rasional untuk menjamin ketersediaan air yang sehat dan stabil bagi masyarakat.

​Sebelum adanya perbaikan infrastruktur, warga Kampung Cimahi seperti Pak Atang harus bergantung sepenuhnya pada pengiriman truk tangki. Ketidakpastian pasokan seringkali membuat warga harus menunggu hingga dua hari dalam antrean distribusi.

Secara finansial, beban yang ditanggung pun sangat berat, di mana pengeluaran untuk air bersih bisa mencapai Rp1 juta per bulan. Angka tersebut merupakan biaya yang sangat tinggi hanya untuk mendapatkan akses air yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar yang mudah dijangkau.

​Titik terang mulai terlihat melalui inisiatif Bosch Water Project yang dijalankan oleh Bosch Indonesia bersama Habitat for Humanity Indonesia. Program ini telah berhasil mengoneksikan sekitar 40 kepala keluarga di Kampung Cimahi ke jaringan air bersih dengan kapasitas distribusi mencapai 21.600 liter per hari.

Program Director Habitat for Humanity Indonesia, Arwin Soelaksono, menegaskan bahwa kehadiran infrastruktur ini bukan sekadar membangun fisik, melainkan memberikan kepastian kualitas hidup dan kesehatan bagi keluarga yang selama ini kesulitan akses.

​Dampak dari pembangunan jaringan perpipaan ini dirasakan langsung secara ekonomi oleh warga. Biaya bulanan yang sebelumnya mencekik kini terpangkas signifikan hingga lebih dari setengahnya.

Selain penghematan biaya, warga kini tidak lagi harus membuang waktu untuk mencari air dengan jerigen atau menunggu truk tangki datang dari jarak belasan kilometer. Kemudahan ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk fokus pada aktivitas produktif lainnya tanpa harus mencemaskan ketersediaan air di rumah.

​Langkah kolaboratif ini sejalan dengan target ambisius pemerintah daerah dalam memperluas cakupan layanan air bersih hingga mencapai 60 persen pada tahun 2026.

Inisiatif dari pihak swasta melalui program CSR yang melibatkan partisipasi aktif karyawan ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara korporasi, organisasi sosial, dan pemerintah desa dapat menyelesaikan persoalan kronis di tingkat tapak.

Dengan semakin luasnya jaringan perpipaan, Desa Pasirranji kini melangkah menuju kemandirian air yang lebih baik dan berkelanjutan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini