JAKARTA – Memasuki pertengahan tahun 2026, kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis kembali ditingkatkan. Selain ancaman flu musiman, masyarakat kini diminta waspada terhadap Hantavirus, sebuah penyakit yang ditularkan oleh tikus yang dapat menyebabkan komplikasi pernapasan dan ginjal yang fatal.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus dari famili Bunyaviridae yang ditularkan ke manusia melalui hewan pengerat (tikus). Secara klinis, infeksi virus ini umumnya bermanifestasi dalam dua bentuk utama:
- Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Menyerang sistem pernapasan dan paru-paru.
- Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Menyebabkan demam berdarah yang disertai dengan gangguan fungsi ginjal.
Penyebab dan Cara Penularan
Penyebab utama penyakit ini adalah paparan virus yang terdapat dalam kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularan kepada manusia terjadi melalui:
- Inhalasi (Udara): Menghirup debu atau partikel udara yang terkontaminasi kotoran tikus yang mengering (cara yang paling umum).
- Kontak Langsung: Menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.
- Gigitan: Meski jarang, gigitan tikus dapat menularkan virus secara langsung ke aliran darah.
Mengenali Gejala: Dari Flu Biasa hingga Sesak Napas
Gejala Hantavirus sering kali menyerupai flu pada tahap awal, sehingga banyak pasien yang terlambat mencari pertolongan medis.
- Fase Awal (1-5 hari): Demam tinggi, nyeri otot hebat (terutama di bagian punggung dan paha), sakit kepala, serta kelelahan.
- Fase Lanjut (HPS): Terjadi penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas akut dan tekanan darah rendah.
- Fase Lanjut (HFRS): Sakit perut hebat, muncul bintik merah pada kulit (perdarahan), hingga penurunan volume urine yang menandakan gangguan ginjal.
Pengobatan dan Penanganan
Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat antivirus khusus untuk menyembuhkan Hantavirus. Penanganan medis berfokus pada:
- Perawatan Suportif: Pasien biasanya membutuhkan bantuan oksigen atau ventilator di ruang ICU jika mengalami gangguan pernapasan.
- Terapi Cairan: Mempertahankan keseimbangan elektrolit dan tekanan darah.
- Dialisis: Pada kasus HFRS berat, cuci darah (dialisis) mungkin diperlukan jika terjadi gagal ginjal akut.
Langkah Pencegahan: Putus Rantai Tikus
Pencegahan adalah kunci utama karena pengobatan spesifik belum tersedia. Masyarakat dihimbau untuk:
- Sanitasi Rumah: Menutup lubang yang bisa menjadi akses masuk tikus.
- Pembersihan Aman: Jangan menyapu kering kotoran tikus. Semprot dengan disinfektan/pemutih terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar virus tidak terbang ke udara.
- Simpan Makanan: Pastikan sisa makanan dan persediaan makanan tersimpan dalam wadah tertutup rapat.
- Gunakan APD: Selalu gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang jarang terjamah seperti gudang atau loteng.
”Deteksi dini sangat menentukan keselamatan jiwa. Jika Anda mengalami demam tinggi mendadak setelah membersihkan tempat yang banyak terdapat tanda kehadiran tikus, segera periksakan diri ke dokter,” ujar perwakilan Dinas Kesehatan setempat.
Data Prevalensi Terkini di Indonesia (Update Mei 2026)
Berdasarkan data pantauan kesehatan terbaru per Mei 2026, Hantavirus menunjukkan tren yang patut diwaspadai di wilayah urban dan pelabuhan Indonesia:.
- Jumlah Kasus: Sejak awal tahun 2024 hingga Mei 2026, tercatat 23 kasus konfirmasi Hantavirus di Indonesia.
- Sebaran Wilayah: Kasus tersebar di 9 provinsi, dengan konsentrasi tertinggi di DKI Jakarta (6 kasus), DIY (6 kasus), dan Jawa Barat (5 kasus).
- Angka Kematian: Dari total kasus tersebut, dilaporkan 3 orang meninggal dunia, menempatkan angka fatalitas (Case Fatality Rate) di kisaran 13%.
- Karakteristik Virus: Hasil laboratorium menunjukkan bahwa strain dominan di Indonesia adalah Seoul Virus, yang dibawa oleh tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus rattus).



