Jakarta, Kilasbekasi.id – Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia), Hantavirus kembali menjadi perbincangan. Banyak masyarakat mulai bertanya-tanya: sejauh mana risiko infeksinya dan apakah virus ini berpotensi menular antarmanusia seperti virus influenza atau COVID-19?
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah keluarga virus yang utamanya disebarkan oleh hewan pengerat (tikus, mencit, dan celurut). Tergantung pada jenis virusnya, infeksi pada manusia dapat menyebabkan dua kondisi serius:
• Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Menyerang sistem pernapasan (umum di Amerika).
• Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Menyebabkan demam berdarah dan gagal ginjal (umum di Asia dan Eropa).
Jalur Penularan Utama bukan Udara Biasa
Secara umum, Hantavirus menular ke manusia melalui proses aerolisasi. Ini terjadi ketika urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi mengering dan bercampur dengan debu di udara. Saat debu tersebut terhirup oleh manusia, infeksi dimulai.
Selain itu, penularan bisa terjadi melalui sentuhan langsung pada benda yang terkontaminasi, lalu menyentuh mulut atau hidung dan gigitan hewan pengerat yang terinfeksi (kasus jarang).
Bisakah Menular Antarmanusia?
Ini adalah pertanyaan yang paling sering memicu kekhawatiran. Berdasarkan data medis dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO), jawabannya adalah hampir semua kasus Hantavirus tidak menular antarmanusia.
Namun, ada satu pengecualian penting yang dicatat oleh para ilmuwan. Di Amerika Selatan, terdapat jenis hantavirus spesifik yang disebut Virus Andes.
Dalam beberapa kasus langka di Chili dan Argentina, terdapat bukti adanya penularan terbatas dari orang ke orang di antara kontak dekat (seperti anggota keluarga atau tenaga medis).
Di luar varian Virus Andes tersebut, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa jenis hantavirus lainnya (termasuk yang biasa ditemukan di Asia atau Amerika Utara) dapat berpindah dari satu individu ke individu lain.
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa penyebaran atau penularan virus hanta atau Hantavirus bukan antar-manusia, tetapi melalui hewan pengerat seperti tikus atau curut.
“99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia,” tegas Budi dalam keterangan pers, dikutip Jumat (15/5/2026).
Hantavirus di Indonesia
Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berasal dari varian Asia dengan tingkat kematian (case fatality rate) antara 5 hingga 15 persen.
Budi menegaskan bahwa Hantavirus ini tidak mudah menular antarmanusia seperti Covid-19. “Indonesia sejak pandemi Covid-19 sudah jauh lebih baik dalam hal surveilans dan kerja sama internasionalnya,” ucapnya.
Meskipun bukan penyakit yang serius dan mematikan jika tidak ditangani, risiko pandemi melalui penularan antarmanusia saat ini sangatlah rendah.
Kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan dan interaksi dengan hewan pengerat tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan keluarga.



